Oleh: Christo Korohama
Kini, Kondom bukan semata berfungsi sebagai alat kontrasepsi. Aneka bentuk kondom ditawarkan untuk memikat konsumen. Muncullah kondom fashionable.
Laila Sultan terkejut bukan kepalang ketika menemukan sesuatu dalam sop kerang yang tengah disantapnya. Dalam sekejap, keterkejutan yang nyaris sama hinggap pada teman sekantornya yang makan siang bersama, saat itu.
Makan siang di McCormick and Schmick’s Seafood di Irvine, California, Amerika Serikat, 26 Februari 2002, itu menjadi kacau. Pasalnya, Laila merasa sesuatu yang kenyal nyangkut di antara giginya. Rasa aneh membuat dia mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Dan, dia mendapati benda kenyal tersebut adalah kondom. Sontak, Laila berlari ke kamar mandi, mual, dan mulas hinggap di perutnya. Muntah pada akhirnya.
Kondom yang tiba-tiba ada terdapat dalam sop kerang yang tengah disantap Laila tentu bukan merupakan bagian dari kampanye penggunaan kondom. Kampanye pemakaian kondom yang marak dilakukan itu bertujuan untuk mencegah penyakit seks menular, termasuk HIV/AIDS. Data yang dikeluarkan www.aidsonline.com hingga akhir tahun 2004 menyatakan 39,4 juta orang di dunia saat ini hidup dengan HIV dan AIDS. Dari jumlah itu, 37,2 juta di antaranya adalah orang dewasa. Lantas, 19.6 juta dari jumlah orang dewasa itu adalah kaum pria!
Salah satu upaya untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS adalah melakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom. Persoalan yang dihadapi, tidak semua pria mau menggunakan kondom. Itu sebabnya produsen kondom berusaha untuk membuat terobosan-terobosan dengan menciptakan kondom dengan aneka keunikan.
Perang produk kondom di pasaran kian seru. Salah satu produsen kondom mengeluarkan The Sensual Caress, sebuah varian kondom yang dilengkapi vibrator, berbentuk lingkaran dengan sejumlah jari-jari di sekelilingnya. Jari-jari ini juga yang berfungsi sebagai vibrator, dengan kecepatan gerak yang bervariasi. Para pengguna kondom jenis ini, menurut Majalah Gentlemen Quarterly, akan mendapatkan sensasi lebih dalam berhubungan seks.
Selain bentuk yang unik dan warna menarik, ada produsen yang menambahkan sejenis alat penjepit pada kondom untuk menahan sperma dan menperlambat aliran darah sehingga ereksi jadi lebih lama. Kondom varian ini ditawarkan dengan desain bermacam-macam.Ada yang berulir, ada pula yang berbintik-bintik. Desain-desain seperti ini untuk memberikan kenikmatan lebih kepada pasangan pengguna kondom.
Para pria yang menolak pemakaian kondom, dengan alasan lapisan lateks yang tebal menghilangkan sensasi hubungan seksual, kini hampir pasti kehilangan alasan. Sebab, saat ini lapisan lateks dibuat sangat tipis. Selain pertimbangan pemasaran, urusan sosial untuk menghindari penyakit menular seks membuat produsen kondom berupaya maksimal memenuhi kebutuhan penggunanya.
Untuk menambah gairah para pengguna kondom, ada beberapa produsen kondom menambahkan aroma dan rasa tertentu pada kondom. Mulai dari aroma dan rasa mint, pisang, mangga, durian, jeruk, strawbery, sampai kondom rasa cokelat. Semua untuk menambah sensasi tertentu ketika berhubungan seks. Tentu, mereka tak akan pernah berpikir untuk membuat kondom dengan aroma dan rasa sop kerang seperti yang disantap Laila.
Senin, 06 April 2009
Wanita Lebih Rentan Tertular Dan Menularkan HIV/AIDS
Di negeri tetangga, Thailand, pesatnya pembangunan ekonomi malah menyebabkan penyempitan pada lahan pertanian. Efeknya sangat luas, terutama pada kehdiupan kaum wanita. Dari kejadian itu, banyak kemudian wanita mencari jalan pintas untuk meraih kesenangan secara ekonomi atau hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi, dengan menjadi pelacur. Kebanyakan dari mereka akhirnya lebih memilih tinggal di kota besar dan menjadi pemuas nafsu para hidung belang.
Kasus yang hampir sama terjadi juga di benua Afrika, yakni negeri Ghana. Suatu ketika pernah terjadi kasus penggusuran ribuan penduduk karena pembangunan sebuah bendungan di sungai volta. Buat kaum pria hal ini mungkin bukan masalah besar, karena mereka dengan cepat bisa mengganti profesi kerjanya menjadi buruh di perkotaan atau nelayan di pesisir lautan. Namun bagi kebanyakan wanita, hal ini menjadi masalah besar karena mereka tidak memiliki keahlian sebagaimana laki-laki. Akhirnya pilihan pekerjaan sebagai pelacur pun dijalani sebagai jawaban singkat atas masalah ekonomi yang menghimpit.
Ujung dari kedua masalah di atas sama. Sedikitnya pilihan dan keahlian membuat wanita lebih memilih jalan pintas, salah satunya menjadi pekerja seks komersial (PSK). Padahal, dengan profesi tersebut, kaum psk bisa menjadi sasaran empuk penularan virus HIV/AIDS, karena dari data terakhir menyebutkan bahwa 80 persen penularan virus mematikan yang belum ada obatnya itu, berasal dari hubungan seks yang tidak aman.
Masalahnya sekarang, melakukan hubungan seks yang dikatakan aman pun, dalam artian tidak berganti pasangan atau hanya dengan istri atau suami, bisa seratus persen terhindar dari penularan virus tersebut. Berdasarkan survey yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana, ternyata di Indonesia banyak perempuan yang sudah menikah terancam positif AIDS. “Kebanyakan kasusnya adalah karena suami masih juga doyan ‘jajan’ meski sudah punya keluarga,” ujar dr Adi Sasongko, MA, ddari Yayasan Kusuma Buana.
Dalam hal ini, posisi tawar wanita memang tidak banyak di mata pria. Untuk itu, diprediksikan di masa akan datang akan semakin banyak wanita yang menjadi agen penyebaran virus mematikan tersebut.
Pasalnya, dikatakan Adi, selain sangat rentan secara biologis, wanita juga rentan secara sosiologis-gender. Selain itu, hanya perempuan yang dianugerahi kodrat untuk melahirkan, yang bisa menjadi salah satu faktor yang makin memperkuat tingginya angka penyebaran virus ini di dunia.
Secara Anatomis
Dijelaskan lebih jauh oleh Adi Sasongko bahwa kondisi anatomis kaum perempuan memang lebih memungkinkan masuknya virus HIV ke dalam organ reproduksinya. Struktur panggul wanita yang berada dalam posisi ‘menampung’, serta alat reproduksi wanita yang sifatnya ‘masuk ke dalam’, memungkinkan perkembangan berbagai macam infeksi tanpa bisa terdeteksi. “Kalau sudah terinfeksi, biasanya akan lebih mudah virus HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh wanita.
Dibandingkan pria yang posisi kelaminnya ‘keluar, maka kemungkinan terjadinya infeksi pada alat vital bisa lebih dulu terdeteksi.
Disamping itu, lapisan mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi virus HIV.
Faktor Psikologis
Sebuah pengujian data tentang lemahnya posisi tawar wanita hingga mengakibatkan tingginya probabilitas kaum ini terkena penyakit tersebut juga pernah dilakukan oleh Aishah Hajni Mohammed dari Malaysia. Publikasi mengenai hasil uji tersebut juga pernah dipublikasikan dalam jurnal Akademi bulan Juli 2002. Dari data kajian tentang wanita di Asia Tenggara secara umum, diketahui bahwa wanita dijangkiti AIDS karena status mereka yang subordinat kepada laki-laki dari segi sosial, ekonomi dan politik.
Selain itu, jangkitan AIDS di kalangan wanita juga dipengaruhi secara langsung oleh definisi budaya dan dibentuk secara sosial oleh peranan mereka dan definisi tentang seksualitas. “Selain itu, kekurangan dari segi pendapatan, kekuasaan dan kekayaan, telah menjadikan wanita tidak berupaya maksimal untuk menghindarkan diri mereka dari bahaya AIDS,” ujar Sasongko.
Meski demikian, beberapa kalangan wanita Indonesia, seperti artis Paquita Widjaya yang juga pemerhati masalah AIDS di Indonesia menampik anggapan kalau wanita Indonesia secara keseluruhan dikatakan lemah secara prikologis dibanding kaum pria. Dalam urusan seks, misalnya, dikatakan Paquita saat ini telah banyak wanita yang bisa mengatakan tidak kepada suami jika memang keadaan mereka sedang tidak sehat atau kelelahan, misalnya. “Jadi, kalau ada pangan yang mulai tidak toleran, saya yakin banyak kaum perempuan Indonesia yang sudah bisa bilang tidak,” tegasnya.
Meski demikian, Paquita memang tidak menyangkal kalau masih banyak perempuan yang berada di bawah tekanan pria secara psikologis, termasuk untuk urusan seks. Itu pula yang menjadikan wanita lebih rentan untuk tertular dan menularkan virus HIV/AIDS. “Tetapi tetap diyakini, bahwa faktor moral adalah hal utama yang bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya AIDS. Kalau moralnya rendah, biar sudah punya pasangan tetap masih juga ingin menikmati yang lain, siapa bisa menjamin tak akan tertular?” tandas Paquita. (dian) - Gema Pria BKKBN
Kasus yang hampir sama terjadi juga di benua Afrika, yakni negeri Ghana. Suatu ketika pernah terjadi kasus penggusuran ribuan penduduk karena pembangunan sebuah bendungan di sungai volta. Buat kaum pria hal ini mungkin bukan masalah besar, karena mereka dengan cepat bisa mengganti profesi kerjanya menjadi buruh di perkotaan atau nelayan di pesisir lautan. Namun bagi kebanyakan wanita, hal ini menjadi masalah besar karena mereka tidak memiliki keahlian sebagaimana laki-laki. Akhirnya pilihan pekerjaan sebagai pelacur pun dijalani sebagai jawaban singkat atas masalah ekonomi yang menghimpit.
Ujung dari kedua masalah di atas sama. Sedikitnya pilihan dan keahlian membuat wanita lebih memilih jalan pintas, salah satunya menjadi pekerja seks komersial (PSK). Padahal, dengan profesi tersebut, kaum psk bisa menjadi sasaran empuk penularan virus HIV/AIDS, karena dari data terakhir menyebutkan bahwa 80 persen penularan virus mematikan yang belum ada obatnya itu, berasal dari hubungan seks yang tidak aman.
Masalahnya sekarang, melakukan hubungan seks yang dikatakan aman pun, dalam artian tidak berganti pasangan atau hanya dengan istri atau suami, bisa seratus persen terhindar dari penularan virus tersebut. Berdasarkan survey yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana, ternyata di Indonesia banyak perempuan yang sudah menikah terancam positif AIDS. “Kebanyakan kasusnya adalah karena suami masih juga doyan ‘jajan’ meski sudah punya keluarga,” ujar dr Adi Sasongko, MA, ddari Yayasan Kusuma Buana.
Dalam hal ini, posisi tawar wanita memang tidak banyak di mata pria. Untuk itu, diprediksikan di masa akan datang akan semakin banyak wanita yang menjadi agen penyebaran virus mematikan tersebut.
Pasalnya, dikatakan Adi, selain sangat rentan secara biologis, wanita juga rentan secara sosiologis-gender. Selain itu, hanya perempuan yang dianugerahi kodrat untuk melahirkan, yang bisa menjadi salah satu faktor yang makin memperkuat tingginya angka penyebaran virus ini di dunia.
Secara Anatomis
Dijelaskan lebih jauh oleh Adi Sasongko bahwa kondisi anatomis kaum perempuan memang lebih memungkinkan masuknya virus HIV ke dalam organ reproduksinya. Struktur panggul wanita yang berada dalam posisi ‘menampung’, serta alat reproduksi wanita yang sifatnya ‘masuk ke dalam’, memungkinkan perkembangan berbagai macam infeksi tanpa bisa terdeteksi. “Kalau sudah terinfeksi, biasanya akan lebih mudah virus HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh wanita.
Dibandingkan pria yang posisi kelaminnya ‘keluar, maka kemungkinan terjadinya infeksi pada alat vital bisa lebih dulu terdeteksi.
Disamping itu, lapisan mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi virus HIV.
Faktor Psikologis
Sebuah pengujian data tentang lemahnya posisi tawar wanita hingga mengakibatkan tingginya probabilitas kaum ini terkena penyakit tersebut juga pernah dilakukan oleh Aishah Hajni Mohammed dari Malaysia. Publikasi mengenai hasil uji tersebut juga pernah dipublikasikan dalam jurnal Akademi bulan Juli 2002. Dari data kajian tentang wanita di Asia Tenggara secara umum, diketahui bahwa wanita dijangkiti AIDS karena status mereka yang subordinat kepada laki-laki dari segi sosial, ekonomi dan politik.
Selain itu, jangkitan AIDS di kalangan wanita juga dipengaruhi secara langsung oleh definisi budaya dan dibentuk secara sosial oleh peranan mereka dan definisi tentang seksualitas. “Selain itu, kekurangan dari segi pendapatan, kekuasaan dan kekayaan, telah menjadikan wanita tidak berupaya maksimal untuk menghindarkan diri mereka dari bahaya AIDS,” ujar Sasongko.
Meski demikian, beberapa kalangan wanita Indonesia, seperti artis Paquita Widjaya yang juga pemerhati masalah AIDS di Indonesia menampik anggapan kalau wanita Indonesia secara keseluruhan dikatakan lemah secara prikologis dibanding kaum pria. Dalam urusan seks, misalnya, dikatakan Paquita saat ini telah banyak wanita yang bisa mengatakan tidak kepada suami jika memang keadaan mereka sedang tidak sehat atau kelelahan, misalnya. “Jadi, kalau ada pangan yang mulai tidak toleran, saya yakin banyak kaum perempuan Indonesia yang sudah bisa bilang tidak,” tegasnya.
Meski demikian, Paquita memang tidak menyangkal kalau masih banyak perempuan yang berada di bawah tekanan pria secara psikologis, termasuk untuk urusan seks. Itu pula yang menjadikan wanita lebih rentan untuk tertular dan menularkan virus HIV/AIDS. “Tetapi tetap diyakini, bahwa faktor moral adalah hal utama yang bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya AIDS. Kalau moralnya rendah, biar sudah punya pasangan tetap masih juga ingin menikmati yang lain, siapa bisa menjamin tak akan tertular?” tandas Paquita. (dian) - Gema Pria BKKBN
Langganan:
Postingan (Atom)